3
OKT
Surabaya Semakin Menunjukkan Kematangan dalam Lingkungan

"Kader lingkungan apa kabar?” begitu pekik Wihartuti Dwi Rahayu selaku Ketua Paguyuban Fasilitator Lingkungan Kota Surabaya saat bersama beberapa pengurusnya tiba di salah satu wilayah yang tengah mengembangkan Program Bank Sampah.

 

Kunjungan semacam ini memang dilakukan untuk memantau perkembangan program bank sampah di beberapa wilayah setelah satu bulan sebelumnya dilakukan pelatihan teknis sistem bank sampah oleh pengurus Paguyuban Fasilitator Kota Surabaya.

 

"Memang, salah satu yang menjadi perhatian saya selain menata organisasi Paguyuban, saya juga meningkatkan kapasitas fasilitator. Melalui pendampingan ini, harapannya fasilitator bisa berperan sesuai kapasitasnya masing-masing,” ujar Bu Agus, panggilan akrab Wihartuti.

 

Lebih lanjut dijelaskan bahwa dia berharap di tiap kecamatan Surabaya nanti memiliki satu wilayah percontohan untuk Program Bank Sampah. Oleh karena itu, pengembangan kapasitas diri bagi semua fasilitator menjadi sangat penting.

 

Dalam setiap kesempatan, Ibu Agus kerap menyampaikan bahwa memahami teknis pengolahan sampah dan menggerakkan kader memang merupakan hal penting bagi fasilitator. Namun, para fasilitator juga harus bisa berpikir secara makro untuk menciptakan sebuah strategi pengembangan wilayah dan SDM agar program lingkungan bisa berjalan secara berkelanjutan.

 

Selanjutnya, kapasitas fasilitator Surabaya sebenarnya telah mendapat ujian awal, yaitu saat selama kurang lebih tiga bulan beberapa anggota Paguyuban melakukan pendampingan pada Program Lamongan Green and Clean (LGC) 2011. Selama pendampingan ini berlangsung, mereka juga terlibat dalam penyusunan strategi program.

 

Di Surabaya, saat ini telah terbentuk kurang lebih 400 orang fasilitator yang tersebar di seluruh kecamatan dan kelurahan Surabaya. Mewadahi fasilitator sebanyak itu tentunya tidak mudah, maka dari itu pada Juli 2011 lalu Paguyuban Fasilitator Lingkungan Kota Surabaya mengadakan acara “Temu Akbar” guna menjaring aspirasi dari seluruh fasilitator di Kota Surabaya.

 

“Lewat Temu Akbar pada saat itu, kita dapat mengetahui keinginan dan gagasan dari seluruh fasilitator. Hal ini akan menjadi bahan untuk menyusun dan membenahi AD/ART (Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga, Red) organisasi fasilitator kita,” ujar Bu Agus berpendapat.

 

Green and Clean